Kisah Tunawisma Tinggal di Pinggir Jalan

Assalamualaikum....
     Hari ini aku bakal menceritakan kisah seorang ibu berumur 41 tahun bersama suaminya yang sedang sakit beserta 3 orang anaknya yang masih kecil di salah satu pinggiran kota tepatnya di jalan Setia Budi, Medan.
    Awalnya aku lihat seorang ibu, ku datangi dia dan kutanya namanya dia menyebut dirinya "Mamak Putri" beserta 3 orang anaknya  yaitu Suma berusia 2 tahun, Sena 9 tahun, sedangkan Putri berusia 15 tahun.
     Sena yang sedang duduk di kelas 4 SD Negeri 13 Medan. Seperti biasa mereka berempat melewati malam hari dipinggir trotoar kota Medan, sedangkan suaminya masih mencari barang bekas (Butut). Aku lihat anak paling kecilnya lagi tidur pulas dengan dingin nya angin malam.
     Tanpa selimut dan hanya mempunyai kain gendong beserta alas tingkar, sedangkan anak keduanya sedang asik menulis, tampak disekitaran mereka duduk banyak plastik - plastik tempat baju dan sebagaiannya.


       Awalnya aku dan kawanku datang ke tempat ibu yang di pinggir jalan bawa sedikit makanan untuk keluarganya, dan kami menyapa ibu tersebut. "Assalamualaikum bu, ini ada sedikit makanan untuk ibu dan adek nya" kemudian ibu itu tersenyum bahagia.
     "Alhamdulillah nak makasih ya" aku tanya "maaf bu, nama ibu siapa?" ibu itu tersenyum padaku "biasa dipanggil mamak putri" dia juga mengenalkan ku dengan anak-anaknya, tapi aku tidak liat anak pertamanya dan aku tanya dong "mana anak paling besar ibu?"
     Dia menjawab "uda dua hari ini kakaknya gak disini karena dia takut di hajar bapaknya", bertanda tanya dong aku, apa suaminya suka main kekerasan? ternyata tidak, melainkan suaminya yang dulu bekerja di PTPN daerah Riau kejatuhan buah sawit.
    Dan dioprasi urat dikepala nya putus mengakibatkan agak sedikit kurang waras atau gila, dan ibu itu juga butuh obat penenang ketika sang suami kumat atau kambuh, kadang suka marah gajelas kadang juga suka mengantuk antukkan kepalanya kedinding.
      Bahkan dia kayak menyakiti dirinya sendiri, ibu ini juga sering jadi bulan-bulanan suaminya alih-alih meredakan jiwanya tapi tidak, melainkan ibu itu diamuk suaminya, anaknya juga sama, ingin mencegah sang ayah menyakiti dirinya tapi malah dia yang kenak pukul sampek membiru mukanya.
      Aku lihat muka ibu ini terlalu kusam dan anaknya juga sama, yang paling membuat ku sedih waktu aku lihat anak laki-laki yang paling kecil lagi tidur pulas hanya pakai alas tikar dan gak pakai selimut yang menutupi tubuhnya di malam yang dingin ini.
      Aku juga kaget waktu ibu ini cerita tentang anaknya yang lahir secara normal tidak menggunakan alat medis satu pun di depan Kodam Bukit Barisan Medan, yang mirisnya ari-ari anak tersebut hanya di buang keparet depan Kodam, yang seharusnya ari-ari itu di kubur dalam tanah.
      Alhamdulillah kata ibu anaknya sehat sampai detik ini. Aku lanjut tanya "Ibu kenpa bisa di disini?" aku mendengar jawabanya "iya nak cemana ya, ibu gak bisa bayar uang kontrakan uda jalan 3 bulan, sebulannya 500rb.
     Ibu takut kalau pulang kerumah nanti yang punya rumah nyuruh keluarkan barang-barang ibu, terus barangnya mau di tarok mana?" aku nanya lagi sama ibu ini, "suami ibu mana?" ibu itu menjawab dengan muka yang sedih "bapak orang ini lagi nyarik butut nanti jam 12 pulang".
     Ok aku melamun liat anak nya lagi nulis, jujur aku nangis dan kepikiran, waktu aku umur seusia anak yang ada dihadapan ku, mungkin lagi minta belikkan mainan sama mama, kalau ga dikasih marah dan nangis.
     Tapi tidak dengan mereka, untuk makan aja susah apa lagi minta belikkan mainan, jangan kan untuk makan, untuk tinggal dirumah yang layak aja mereka tidak mampu, kemudian aku bertanya lagi,"jadi bu kalau malam tidurnya disini?"
     Dengan muka kusamnya "tidak nak, kami hanya numpang singgah disini nanti kalau bapak nya udah pulang membutut baru kami pulang" lalu aku bertanda tanya dong pulang kemana tapi takut karena yang punya kontrakan uda marah, dia bilang "nanti jam 12 kami pulang kemasjid dekat sini"
     Lalu aku tanya "masjid daerah mana bu?" "oh ga tentu nak, tergantung masjid mana yang gak terkunci pagarnya".


     Kemudian aku nanya, "jadi ibu makan kayak mana?" dia jawab "ya saya berharap seperti kalian datang membawa makanan" lalu aku bertanya "ibu ada 5 orang, terus cukup makanan segitu?" dia jawab "ya enggak la, sangat tidak cukup untuk semua ini,
     Ibu juga berharap bapak bawak uang lebih, tapi ya cemana la nak, membutut dapatnya berapa si, tapi ya ibu bersyukur masih ada seperti kalian yang menolong" aku lihat wajah ibu ini menahan lapar sedari tadi, lalu "iya buk kita didunia ini harus tolong menolong.
     Karena masih banyak manusia yang butuh bantuan dari kita, belaskasih kita, uluran tangan kita, tapi maaf bu, hanya ini yang bisa saya berikan untuk ibu dan anak-anak, kemudian "yallah terimakasih kali ya nak ini uda lebih dari cukup".
     Lalu aku dan kawan permisi pulang karena hari sudah mulai larut, dan kami mengucap pamit sama ibu, ketika kami sudah mau pulang, dan benar sekali, mereka membuka 1 bungkus nasi untuk dimakan, aku merasa sedih, kini orang yang masih bisa makan aja suka milih-milih, gimana sama orang yang ga mampu, makan aja harus nyarik uang dulu.

Saya hanya berpesan pada kalian semua, bantulah orang yang patut dibantu, jangan tunggu kaya kita baru bantu orang lain, sederhana juga bisa bantu orang lain, tapi dengan semampu kita.

4 komentar:

Pages