Kisah Bapak Penjual Balon dengan Satu kaki



Assalamualaikum....
     Halo semuanya, tepat hari jumat tanggal 17 januari 2020, sehari sebelum selesai ujian UAS di UMSU, aku menyempatkan pergi kesalah satu kampus negeri di medan yaitu USU, awalnya aku bingung setelah selesai ujian, aku tak ingin cepat pulang kerumah.
     Aku menyempatkan untuk pergi ke USU sambil minum segelas sop buah dikala siang yang terik, sembari duduk dibangku dan meminum segelas air yang telah disediakan untuk ku, aku melihat ada sosok bapak yang berjualan balon yang duduk dipinggir jalan.
     Mungkin mahasiswa USU sudah tak asing lagi melihat seorang bapak penjual balon yang biasanya kemana mana memakai tongkat, dan membawa tas berwarna hitam serta sarung yang dipakainya setiap hari, bapak ini mengalami kecelakaan sehingga kakinya harus diamputasi.
     Aku berjalan sembari bawa minum yang tadi ku pesan dan menghampirinya, mulailah aku bertanya tentang sosok bapak yang sedang duduk disampingku, "Assalamualaikum pak" "waalikumsallam" "maaf, kalau boleh tau, nama bapak siapa ya?" "nama saya Subari"
     Aku mencoba menanyakan umurnya berapa "umur bapak berapa?" "jalan 65" basa basi sedikit agar memecahkan suasana yang tegang, aku mulai bertanya lagi seputar apa yang beliau jual "ini balonnya dijual pak?" "iya nak dijual" "berapaan ini pak?"
     Sambil menggulung balon yang telah dipompanya "kalau yang biasa 3000 kalau yang ada gambarnya 5000" aku pikir yang membelinya sedikit, karena beliau berjualan balon yang notabenenya disukai oleh anak kecil.
    "Bapak biasanya pulang bawa uang berapa ya?" "gak nentu, namanya orang jualan, pokonya lepas belanja uda alhamdulillah" "biasanya berapa pak?" "kadang 100 - 150 itu yauda syukur kali" "uda berapa lama bapak jualan ini pak?" "


     Tapi saya salah, "balon ini banyak yang beli pak?" "banyak juga anak kampus sini, orang orang yang lewat bersama anaknya" "alhamdulillah ya pak" aku mencoba nanyak tentang beliau "bapak tinggal dimana?" "jalan S Parman Polonia" kurang jelas direkaman suara bapak itu.
     "Dekat sekolah angkasa belakang hermes, tau?" "tau  tau pak, oo disitu yapak" dan ada yang datang menghampiri bapak ini, mungkin mahasiswa USU juga karena pakai seragam ujian hitam putih "pak ini ada sedekit uang mohon diterima".
     "Maaf nak saya disini jualan bukan minta minta atau pengemis, kalau kamu mau bantu beli saja dagangan bapak, bapak lebih bersyukur habis dagangan inib dan dapat uang, dari pada dapat uang dan gak habis apa yang bapak jual"
     Perempuan itu langsung meminta maaf "yaallah maaf pak, saya tidak bermaksud seperti itu, ingin membantu bapak, cuma saya dirumah gak punya adik kecil pak" "yauda gapapa, tapi jangan memberi uang sebanyak itu" "atau gini aja pak, saya beli semua nanti saya bagikan ke anak kecil didaerah sini" "ya begitu juga boleh, lebih baik menguntungkan saya dan banyak orang"
      Mungkin bapak ini merasa tersinggung, beliau bukan pengemis atau peminta minta, beliau adalah pedagang yang berusaha dan berkerja keras, beliau sepertinya tidak suka dikasihanin, beliau lebih baik capek kerja dari pada capek ngemis atau minta minta.
     Bangga lihat seorang bapak yang sudah tidak tua lagi masih bekerja keras demi keluarganya dan tidak mengemis, patut dicontoh semangat bapak ini yang berkobar seperti api yang bergejolak, lihat fisiknya tidak menjadikan semangatnya luntur akan bekerja mencari rezeki yang halal.
 

       Aku mulai memberanikan diri untuk menanyakan perihal kakinya "maaf pak, bapak kenapa pakai tongkat ini?" sambil ku pegang tongkatnya dan menunggu jawabannya, "saya pernah diamputasi karena kecelakaan dijalan Binjai km 5 setengah dekat SPBU"
     "Mulai kapan kaki bapak diamputasi?", "tahun 1977, ketabrak bus didaerah Binjai, masuk rumah sakit umum, lalu dikompres lah kok mala dagingnya ilang tinggal tulang, dibawa pulang diobati sama mantri uda sembuh"
     "Isteri bapak ada?" "ada isteri saya dirumah" "anak bapak berapa? "anak kandung 1, anak pungut 2" "maksudnya anak pungut pak?" "iya anak orang saya pungut saya urus, dia sakit diserahkan sama saya terus saya rawat.
     "Dengan kondisi yang pas-pasan bapak masih bisa mengurus yang bukan anak kandungnya atau orang lain" "ya orang kan minta tolong anaknya sakit, masa gak saya selamatkan" buat ku yang tidak terlintas dari orang lain dan siapapun, dalam kehidupan suasana yang notabenenya ekonomi kurang bagus.


      Tapi bapak ini memilih untuk membantu anak orang yang sedang sakit dan dibesarkan sampai sekarang ini, dan kata bapak itu "anak yang terakhir saya besarkan dari mulai usia 3 bulan hingga sampai detik ini".
       Meskipun beliau hanya mempunyai satu kaki saja, tapi kekurang tersebut bukan menjadi penghalang untuk bapak bekerja mencari uang sebagai penjual balon, 8 tahun sudah beliau menjual balon dari satu tempat ketempat lainnya.
      Dari bekal balon dan tenaga dari tubuhnya, beliau dapat rezeki dari para pembelinya, dari mahasiswa maupun dari para pengendara yang membawa anaknya, sungguh bapak yang bekerja keras dan menginispirasi

Buat para pembaca untuk tetap menolong, karena membantu tidak perlu tunggu kaya ataupun banyak duit

Terima Kasih
Assalamualaikum Wr Wb

 

3 komentar:

  1. Semoga dengan ini dapat ter-ekspose oleh publik

    BalasHapus
  2. Tetap slalu rendah hati untuk menolong siapapun ,,good luck bng ,,

    BalasHapus

Pages