Wanita Parubaya Penjaga Parkir


Assalamualaikum...
     Hallo semua, tepat tanggal 7 Januari 2020 diawal tahun yang baru ini aku bakalan ceritain seorang wanita parubaya yang lagi menjaga parkir dan terkena penyakit asam urat didaerah Jl Setia Budi Medan, ibu tersebut tinggal di Jl Murni Gg Iklas No 25 Setia Budi Medan.
     Asmawati itulah nama wanita parubaya dan bisa dipanggil bu asma sang penjaga parkir, usianya 63 tahun kelahiran 1957, sudah tidak muda lagi. Tapi beliau semangat bekerja keras demi sesuap nasi, beliau seorang janda yang ditinggal meninggal dunia oleh suaminya, punya 5 orang anak.
     Anak pertama sampai tiga uda menikah dan dua lainnya masih sekolah, ibu itu mencari uang untuk menyekolahkan kedua anak tersebut, dia terkena penyakit asam urat yang terlihat dari jalannya, terenyuh rasaku melihat ibu parubaya itu dari padi hingga jam 12 malam.
    Aku merasa jika ibu itu adalah orangtuaku sendiri, tidak akan menyuruhnya untuk kerja sampai larut malam, karena sudah tua parubaya, pilu rasanya melihat ibu bekerja keras demi keluarganya, mau gimana lagi, harus seperti itu untuk bertahan hidup demi anak yang disayanginya
     Bekerja menjaga kendaraan orang lain yang sedang belanja disalah satu minimarket waralaba yang gambar lebah dan berlogo dominan biru tersebut, dan tidak sedikit tak memberi uang parkir yang hanya 2 ribu rupiah saja, kebanyakan mobil yang tidak memberikan uang parkir.
 

       Awalnya aku lagi jalan keluar malam sama temanku mengisi kebosanan dirumah, iseng mau cari makan diluar, ehh tiba aku melihat seorang ibu parubaya yang sedang mangatur sebuah mobil untuk pergi dari toko tersebut, aku teruskan aja jalan untuk mencari makanan.
       Setelah aku sampai dirumah makan, aku membeli tiga nasi bungkus, untuk aku temanku dan ibu itu, aku berniatan kembali ketempat ibu untuk memberi nasi, setibanya aku sampai, betul sekali dia belum makan dari siang, diterima nasi tersebut dan aku mulai menyalaminya.
      "Assalamualaikum bu" "waalaikumsalam om" dan aku dipanggil oom, padahal aku masih muda yakan, tapi yausudah la, "kenalin nama saya andre bu, dan ini teman saya" "oiya andre" "kalau boleh tau siapa nama ibu?" "namaku Asamawati, biasa dipanggil bu asma" aku terus memandangi wanita parubaya tersebut.
      Sambil memijat daerah kaki mungkin lagi kumat penyakitnya, "ibu umur berapa?" "saya kelahiran tahun 1957, lupa berapa umurnya sekarang" mungkin ibu ini uda mulai lupa faktor usia kaliya, dan kami hitung dong berapa usia ibu ini, "oohhhh 63 bu" "oh mukin la saya uda lupa".
     "maaf ya bu, ibu lagi sakit ya, saya lihat kok jalannya susah" "iya nak uda lama ibu sakit asam urat, mungkin ada lima tahun +-" "uda diminum obatnya bu?" "gasuka minum obat kayak gitu, nanti duit lagi duit lagi, ya kalau matikan tinggal mati"
     "Gak gitu juga ibu, harus minum obat dong biar sembuh dan ga sakit lagi kakinya" "ya cemana nak uang untuk makan aja uda syukur", demi anaknya beliau mau kerja jadi penjaga parkir dengan umur yang gak muda lagi, sumpah ini miris kali dengarnya.
      "Ibu gamau belik obat karena nanti kalau kambuh belik lagi, jadi sayang uangnya" "ibu lebih sayang uang atau kesahatan ibu, uang bisa dicari dengan cara apapun itu, tapi kalau kesehatan itu mahal bu, jadi dijaga kesehatanya bu, jangan sia siakan semuanya"
     Pasalnya, untuk berdiri tegak aja ibu ini gak bisa, konon lagi jaga parkir, seandainya ibu ini adalah orang tua ku, seharusnya uda banyak istirahat dirumah, ini harus bekerja demi sesuap nasi dan uang sekolah bagi anaknya.
    Setelah ku berbincang sedikit tiba-tiba datang seorang ibu bersama keluarga, aku kaget dong ini siapa ya, dan ibu muda ini berbincang sama ibu parubaya tersebut, dan ternyata mau menukar uang untuk dagangannya nya, aku menunggu sampai selesai, lumayan lama menghitung banyak uang logamnya.
     Sudah selesai dia menghitung uangnya, lanjut aku berbincang sama ibu, "Suami ibu dimana?" "oh suami saya sudah meninggal beberapa tahun lalu", bahkan dia lupa berapa tahun lalu suaminya meninggal, dan mulai mengingat kembali "oh oiya saya ingat, 10 tahun yang lalu".
    "anak ibu ada berapa?" "anak saya ada lima, 3 uda nikah, dua masih sekolah, dan cucu ada 8" aku merubah topik lain tentang pekerjaan yang sedang dilakoninnya, pasalnya aku melihat beberapa pengendara mobil seenaknya pergi gitu aja tanpa menurunkan kacanya.
     Kalau tidak adapun uang pecah, pinomat senyum dan bilang maaf bu gada uang pecah, mungkin ibu ini juga memakluminya, emang ya orang kaya mikirin dirinya sendiri, tolong dong orang sekitar juga butuh bantuan kita, kalau pun gak mau membantu, setidaknya mengahargai bukan main pergi aja.
      Orang uda mengatur mundur mobilnya, eh seenaknya aja tanpa menbuka kaca, aku doakan yang naik mobil itu semoga dapat sadar akan orang sekitar, bantu bukan hanya soal materi dan non material, mengahrgai orang lain itu lebih baik dari pada tak menghargai sama sekali.
      Tapi ibu beneran berhati mulia, dia cuma bilang "kalau ga dikasih walaupun mulut saya uda berkoar koar bilang mundur tanpa dihargai gamasalah, saya cuma berpikir oh berarti bukan rezeki aku" beneran berhati mulia.






     Aku sama sekali tidak ada menyinggung tentang ibadah, karena menurutku ibadah adalah hal yang sensitif karena itu hak sendiri menjalankan nya ya tapi itu emang kewajiban si, aku beneran takjub dengan ibu ini pasalnya dia selagi kerja tetap menjalankan sholat 5 waktu.
     "Ibu kalau waktunya sholat ya sholat, ibu tinggal parkiran ini, pigi ke mesjid, setelah itu makan dulu, itu yang saya lakukan setiap hari" aku mikir dengan kaki nya yang lagi sakit, dia tetap pergi kemesjid menunaikan ibadah wajib.
     "Ibu masih kuat puasa?" "ya kuat la full lagi, sayakan udalama gak datang bulan (Menopause) jadi ya gada kata gak puasa" good people bangetdah, dia juga suka dikasih telekung kalau idulfitri, malah beliau suka sedih kalau dikasih barang itu, masih ada yang ingat sama akhirat ku kata ibu itu.
     Malam mulai larut, aku dan temanku memutuskan untuk pulang, dan akhirnya aku permisi dengan ibu ini untuk pualng dan mempersilahkan beliau untuk makan, karena dari siang belum makan, "bu kami pulang ya uda malam juga, kasian ibu belum makan"
    "Yah kok cepatklali, kapan-kapan main lagi ya kesini temani ibu" "iya bu insyaallah kalau ada waktu", aku memutuskan pulang dan menyalami beliau "yauda bu kami pulang ya, assalamualikum" "waalaikumsalam, makasi ya om" tak lupa kata om disebut pada ku, yauda kali ya gapapa oom oom.
     Aku menulis ini bukan bohong atau mengada ngada, its real! ini yang terjadi di negara kita, karena apa? karena faktor ekonomi yang carut marut mengahruskan orangtua bekerja, sedangkan kita ngapain? enak-enakan aja main sana main sini, hallo tolong buka pikiran anda.
    Jika ada orang yang rasa anda perlu atau patut dibantu, tolong ulurkan tangan anda ke orang tersebut, bisa jadi di hari akhir nanti kalian dibantu sama orang yang pernah dibantu, menurut kajian sosiologi, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia perlu bantuan orang lain.

10 komentar:

  1. Semoga ibu itu selalu dalam lindungan Allah SWT aamiin Allah Huma aamiin

    BalasHapus
  2. Patut untuk hadi tauladan dan tolak ukur berbuat baik

    BalasHapus
  3. Bagus tulisannya semoga nenek itu diberikan kesehatan keselamatan ya

    BalasHapus
  4. Konten inspiratif begini, dikembangkan terus bakal membawa banyak manfaat. Bagi pembaca ataupun penulis sendiri..

    BalasHapus

Pages