Kisah Penjual Sate Tunanetra



Assalamualaikum.....
      Halo semuanya, tepat hari kamis tanggal 6 Februari 2020, aku sedang berada didaerah Binjai, tepatnya di Jl Soekarno Hatta, atau bisa disebut juga daerah Tanah Tinggi, aku bakalan ceritain kisah tentang seorang bapak yang sedang berjualan sate di SPBU daerah Binjai,
      Edward itulah nama seorang penjual sate yang mengalami permasalahan dibagian penglihatannya, beliau sering dipanggil Sied, umurnya 60 tahun kelahiran 1960, beliau adalah seorang keturunan melayu yang sedang bekerja sebagai penjual sate.
      Beliau berasal dari Lubuk Pakam Desa Sekip Gg Ampera Utara, setiap harinya berjualan dari Lubuk Pakam ke Binjai menggunakan angkot, sekali pergi yang harus dikeluarkan untuk ongkos berjumlah Rp. 35.000, dia memiliki semangat yang kuat untuk berjualan.
     Walaupun keterbatasan fisiknya yang tidak bisa melihat dengan utuh seperti manusia normal, tetapi dia memiliki semangat yang tak pernah padam, hanya karna memikirkan keluarga yang menunggu dirumah.


      Awalnya, aku lagi menikmati udara malam dikota binjai sembari mencari makanan apa yang enak untuk dimakan dikala malam itu, lama kami mencari makanan, dan kami memutuskan untuk mengisi bahan bakar di SPBU Tanah Tinggi Binjai, sembari menunggu antrian lama.
      Aku melihat ada seorang bapak penjual sate yang sedang duduk didepan SPBU menunggu pembeli terakhir, kala itu jam menunjukkan pukul 23:00, aku berpikir kok ada ya orang jual sate malam malam, apa gak dingin ya sate nya uda dari pagi.
     Kami memutuskan untuk mencoba dan membelinya "Assalamualaikum pak?" "Waalaikumsallam" "jualan apa ya pak?" aku mencoba basa basi sedikit ya walaupun aku tau beliau jualan sate, "jual sate nak" "masih bisa dimakan pak?"
     "Ya bisa la sebelum jam 12 masih bisa, tapi kalau sudah lewat jam 12 sudah tidak saya kasih kalau ada yang mau beli dagangan saya" berarti bapak ini menjaga dagangannya juga ya supaya yang beli gak mendapat dampak yang kurang baik.
   

      Sambil membuka dagangan nya, aku melihat kondisi mata beliau yang aku rasa ada yang aneh tapi aku tetap menunggu membukanya karena uda di gulung gulung pakai kain, dan ku lihat satenya, ada sate kerang, sate telur puyuh, sate jengkol.
     Sembari aku bercerita dengan bapak, sumpah ini beneran satenya enak, rasanya mantap, aku memutuskan untuk beli banyak karena enak, "pak ini satenya kok enak?" "makasi nak" "iya pak sama sama" aku mencoba menanyakan hal yang sedari tadi ingin kutanya.
    "Maaf pak, kalau boleh tau, mata bapak kenapa?" "ooh mata saya terkena ledakan batre" "kok bisa ya pak" "iya dulu saya mekanik di Nias Selatan, terus waktu mau dibetulin, batrenya tiba tiba meledak pas dimuka saya" "aih pak kok bisa?" "iya bisala" "terus gimana pak penangananya?" "bola matanya gapapa, tapi syaraf matanya yang rusak, bahkan uda dibawak ke materna"
    "Ya karena di Nias Selatan dulu balai pengobatan jauh dari kampung, karena pun saya tinggal didaerah hutan-hutan, tapi uda sempat dikasih penangangan pertama kok" "jadi pak mata bapak sama sekali gabisa melihat?" "yabisa, tapi kamu aja disebalah saya, saya gak tau badan dan wajah kamu"
    "Ini beneran pak?" aku gapercaya ternyata selama aku berada disampingnya dan berdialog, bapak ini tak tau aku seperti apa, muka gimana, menurutku kasian sekali, karena beliau ga bisa melihat secara normal, hanya bisa mendengar dari sumber suara.
   

     Aku mencoba bertanya kembali "biasanya bapak pulang jam berapa pak?" "nih bentar lagi pulang jam 10 11 ataupun jam 12, nunggu motor dumtruk" "loh bapak pulangnya numpang numpang pak?" "yaiyala, itupun kalau dapat tumpangan, kalau gak yauda nginap di SPBU ini aja"
    "Loh pak apa ini 24 jam ya pak?" "iya ini 24 jam, kalau gadapat tumpangan ya disini bapak, biasanya dapat, tapi kalau supir dumtruknya baru, saya tidak dapat tumpangan" aku mendengarnya begitu miris, pasalnya dia harus nginap di SPBU ini karena gadapat tumpangan.
     Aku melihat matanya yang tidak bisa melihat secara normal harus nginap di tempat itu, aku melanjutkan pertanyaan lagi, "awal mula kenak ledakan itu gimana pak?" "ya berkabut aja, lama kelamaan kayak gini".
 

     "Biasanya bapak pulang bawak uang berapa?" "ya gak nentu, mala kalau bisa dibilang jualan ini banyak ruginya gauntungnya, tapi cemana, hanya ini yang bisa menyambung hidup keluarga kami" "anak bapak berapa?" "ada 4, yang satu uda berkeluarga yang kedua uda tamat kerja di tempat walet yang ketiga kerja serabutan, dan yang terakhir masih SMA"
      Aku memilih untuk pamit karna jam uda menunjukkan jam 12 malam, aku memilih pamit ke bapak itu, "pak saya duluan ya pak uda malam" "yauda makasih ya, uda beli dagangan bapak tadi, semoga suka ya" "iya pak sama sama, pastinya suka kok pak"
     "Assalamualaikum pak, saya tinggal yapak" "waalikumsallam maksih ya nak"
  Aku bisa memetik intisari dari masalah ini, rezeki, jodoh, maut uda ada yang mengatur, nah tugas kita cuma menjalankan apa yang diberi Allah pada kita, dan mensyukuri apa yang kita punya, apapun kerjaannya, yang penting halal, terimakasih sudah membaca

Assalamualaikum.....

12 komentar:

  1. Cerita-cerita seperti ini yang selalu mengingatkan kita untuk jangan pernah lupa bersyukur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kunci nya satu, bersyukur apa yang kita punya saat ini bang

      Hapus
  2. Kalau ngelihat pedagang kecil, kadang suka sedih. Apalagi yang jualan di jalanan, gmnana gitu rasanya. Sebisanya sih kalau ketemu kita beli dagangan nya ya kan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, walaupun kita gasuka atau kita gaperlu, setidaknya bantu dagangan nya, yakan bang

      Hapus
  3. Tak melayu hilang di bumi. Semoga si Bapak terus bisa menghidupin 4 anaknya, dan anaknya pada sukses dunia akhirat. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita doakan yakan bang supaya bapak itu baik baik aja biar bisa menghidupkan 4 anak

      Hapus
  4. Pak Sied semoga rezeki bapak ditambahkan dan diberi kesehatan. Amin.

    Tulisannya bagus dan menggugah. Ditunggu tulisan selanjutnya :)

    BalasHapus
  5. Aku liat yang beginian nangis 😭 ga kuat aku tuh, terbayang orang tua sendiri yg emang udh tua juga 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itula yang aku rasakan kak, aku selalu mikir orang tua dirumah kalau uda liat orangtua udamalam masih jualan

      Hapus
  6. wah masyaAllaah semangat beliau. Nenek saya tinggal di Binjai,mungkin kapan2 rezeki saya bisa bertemu bwliau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, mana tau yakan kak, kakak jumpa bapak itu, beli la jualannya kak, jamin enak satenya

      Hapus

Pages