Kisah Bayi Penderita Penyakit Limfoma


        
Assalamualaikum semuanya tepat pada tanggal 8 Maret 2020 saya bersama Bripda Tika Sinaga, beliau adalah seorang polwan yang bertugas di Dit Samapta Polda Sumut, ia dikenal banyak orang karena memiliki rasa empati terhadap orang-orang yang kurang mampu.
       Ada beberapa orang kurang mampu yang telah dibantunya, beliau membantu orang yang kurang  mampu yang sedang terkena penyakit parah serta tidak memiliki dana untuk berobat, tak kala beliau membantunya dengan mencari dana dari orang yang dermawan, dan dana sedikit demi sedikit terkumpul.
      Semua pasien yang dibantunya itu dibawa ke RS Bhayangkara Medan, dan pasien tersebut ada yang memiliki BPJS dan tidak memilikinya, salah satu pasien beliau adalah seorang balita berusia 1,3 tahun yang sedang terkena penyakit Limfoma atau kelenjar getah bening.
       Balita itu bernama Latif ia sudah menderita penyakit limfoma selama 3 bulan dan tidak memiliki BPJS untuk berobat, dan balita itu hanya bisa pergi kesalah satu puskesmas tempat mereka tinggal, dan ibunya biasa dipanggil ibu Onek.     
     Ibu Onek adalah orang tua dari balita yang sedang sakit, aku mencoba untuk berbincang kepada ibu tersebut, "Hallo ibu assalamalikum" "hallo om, waalikumsalam" "maaf bu, kalau boleh tau, nama ibu siapa?" "nama ku ibu Onek om" "adik ini siapa namanya bu?"
      
       
        "Latif om" "berapa usia si latif bu?" "1,3 tahun om" aku mencoba memandangi balita tersebut yang sedang menjerit kesakitan, ibunya juga mencoba untuk menenangkan sikecil, "ibu tinggal dimana kalau boleh tau" "di tembung pasar 3 jalan datuk kabu" "ooo, saya tau daerah situ bu".
        Aku mencoba menanyakkan tentang adik tersebut, "kalau boleh tau ni bu, siadik sakit apa ya?" "ya ginila om, sikecil sakit limfoma atau kelenjar getah bening, uda 3 bulan dia sakit om" dan lagi lagi dia terus terusan menjerit mungkin dia menahankan rasa sakitnya.
      Aku melihat dikepala bagian belakang dan lehernya juga tampak ada benjolan bahkan kalau diukur lumayan besar, aku mencoba tanya kembali, "gejala awalnya gimana bu?" "ya demam tinggi, dan muncul benjolan, saya kira hanya gondokkan biasa aja tapi lama kelamaan kok makin besar, mana sibapak lagi diluar kota"
       Aku kaget dong, anaknya lagi sakit kok bapaknya gak pulang, aku mencoba menyanyakan perihal sibapak, "maaf ni bu, emang bapak dimana ya kok ga pulang liat anaknya?" wajahnya murung nampak kesedihan yang membebani jiwa dan raganya yang mana anak sedang sakit dan sibapak tidak dapat pulang.
        

       "Bapaknya kerja di Jakarta jadi kuli bangunan ikut sama kawannya, tiap bulan beliau ngirimi uang untuk anak-anaknya, tapi dibulan ketiga sibapak gak ngirimi uang karena abis kenak tipu sama kawannya" "oiya yang sabar ya bu" "uda ibu kabarin bapaknya bahwasannya si latif sakit kelenjar getah bening".
        "Lalu tanggapan bapak ketika si latif lagi sakit gimana bu?" "ya bapak bilang kalau bapak belum bisa pulang karena gada uang, tapi kemaren bapak jual hp nya untuk ngirimi uang ke ibu, laku hpnya 700.000 terus bapak ngirim ke ibu 400.000, sisahnya untuk pegangan dia disana"
         "Dia juga bilang kemaren uda dapat tumpangan dari Jakarta kemedan sama kawannya naik truk, ya saya bilang alhamdulillah ya walaupun lama tapi gapapa lagian latif pengen jumpa sama bapaknya, karena uda kangen"
      Kemudian karena aku gamau liat ibu ini berlarut-larut dengan kesedihan, aku melihat sosok perempuan yang disebelah ibu tersebut ternyata dia adalah kakak si latif, tampak rambutnya acak acakkan, aku mencoba mengajak ngobrol anak tersebut.
         "Hallo dek, nama adek siapa?" "Putri bang" "kelas berapa?" "kelas 7 SMP bang" "sekolah dimana dek?" "di Alzhar pasar 5, tapi itu kalau sekolah, uda 1 bulan uda gak sekolah lagi" sumpah aku kaget dengar dia bilang kalau uda gak sekolah lagi.
        Kemudian aku mencoba bertanya kepada sang ibu, apakah benar adek ini uda gak sekolah lagi, dan ternyata ibunya membenarkan pernyataan sang adek bahwasannya dia sudah tidak sekolah lagi, "kenapa putri gasekolah lagi bu?" "gimana la dek semua karena ekonomi, ibu punya anak 6 , dan 4 nya uda putus sekolah, karena gabisa bayar uang sekolah"


          "Paling besar abangnya sekarang kerja jadi penjual kerupuk jangek, ya lumayan saya dikasih 50.000 setiap harinya" "jadi ibu orang itu gak malu kalau ga sekolah lagi?" "ya sebernya mereka malu saya kan dulu pernah muda juga, tapi gimana lagi, kondisi yang memaksa semuanya"
        "Jadi kerjaan ibu sehari hari-hari apani bu?" "ya biasa la dek, jaga anak-anak, nanti kalau dipanggil untuk bersih-bersih rumah saya ya mau, disuruh nyuci ya mau juga, bagaimana caranya bisa bertahan hidup mengurus anak-anak ini, bapaknya juga di Jakarta kan"
         "Kalau boleh tau ni bu, mereka tiap hari makannya gimana?" " tiap hari beli intermie 4 dibagi 7" sontak aku kaget, bayangkan aja setiap harinya makan intermie harga yang paling rendah yaitu hanya 1000, dibagi 7 dan yang mirisnya itu menu tiap harinya.
          "Serius bu?" "iya serius dan kalau beli 2 telor bagi 7 juga, dan biasanya dikasih tetangga nasi" aku bisa menyimpulkan dari sini kenapa latif bisa sakit, mungkin karena dia baru berusia 1,3 tahun masih minum susu asi, jadi apa yang ibunya makan, itu yang ibunya kasih ke anak kecil itu, sungguh malang keluarga ini.

NOTE: BANTULAH ORANG YANG KURANG MAMPU DAN YANG BUTUH ULURAN TANGAN KITA, INGAT BUKAN TUNGGU KAYA BARU KITA BANTU ORANG DAN GAK HARUS KAYA KITA BANTU ORANG, PLEASE LIHATLAH MASYARAKAT SEKITAR
           







12 komentar:

  1. Ya Allah, suka sedih kalau baca kisah kaya beginian. Yang kuat buat Ibu dan dede balitanya, semoga pemerintah bisa ikut andil membantu, ya. Semoga dengan adanya tulisan blog ini bisa jadi referensi buat pemerintah atau siapapun yang ingin menolong sesama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin bang, ya kita berusaha untuk orang banyak, semoga pemerintah melihatnya

      Hapus
  2. Semoga Bripda Tika Sinaga, diberikan rezeki berlimpah agar mudah dalam hal membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin bang, hehe uda di sampein salam abang

      Hapus
  3. Ya Allah sedihnya. Semoga Allah mudahkan rezeki di keluarga ini dan diberi kesembuhan buat si adek balita. Hiks...

    BalasHapus
  4. MasyaAllah ya sangat menginspirasi dan memotivasi tulisan ini ke banyak orang untuk tetap berbuat baik, apalagi selama masa pandemi ini. Taqabbalallahu minna wa minkum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, cemana pun ada orang yang membutuhkan uluran tangan kita, bantu selagi bisa, bantu selagi mampu, amin

      Hapus
  5. Semoga semuanya selalu diberi kemudahan dan bisa terus saling membantu.

    BalasHapus
  6. Semoga si dede dan keluarga diberi kekuatan dan kesehatan

    BalasHapus
  7. Adek Latif semoga lekas sembuh dan Bapak diberi rezeki banyak dan berkelimpahan supaya bisa pulang dan berkumpul bersama Adek Latif dan Mama :'(

    Amin.

    BalasHapus

Pages